JAKARTA – Direktur Utama BPR Bank Nusamba Jatengdiy, Bambang Susanto, menghadiri Financial Health Pathways Forum: Building Resilience, Security and Opportunity for Workers, Families and Enterprises yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO) di Hotel Pullman Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.

Sebagai mitra sekaligus peserta dalam program ILO, BPR Bank Nusamba Jatengdiy turut berpartisipasi dalam forum yang membahas strategi penguatan kesehatan keuangan, perluasan inklusi keuangan, serta peningkatan ketahanan ekonomi bagi pekerja, keluarga, dan pelaku usaha.

Memasuki sesi kedua, forum dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi untuk mendorong dialog yang lebih intensif antara peserta dan para narasumber. Dalam sesi ini, BPR Bank Nusamba Jatengdiy berkesempatan berdiskusi secara langsung mengenai tantangan dan peluang lembaga keuangan dalam memperkuat kesehatan keuangan masyarakat. Diskusi dimoderatori oleh Djauhari Sitorus dari ILO.

Salah satu pembahasan utama dalam sesi tersebut adalah pentingnya inovasi produk keuangan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mempertimbangkan aspek pengelolaan risiko.

Raunak Kapoor, Associate Partner MicroSave Consulting, menyampaikan bahwa pengelolaan risiko merupakan aspek penting dalam penyaluran layanan keuangan. Menurutnya, tidak semua lembaga keuangan memiliki kemampuan untuk menyalurkan program pembiayaan tertentu, sehingga diperlukan pendekatan dan inovasi yang tepat untuk membuka peluang baru.

Ia juga menyoroti pentingnya produk tabungan yang lebih fleksibel. Melalui produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebiasaan menabung diharapkan dapat tumbuh dan membantu masyarakat membangun kedisiplinan dalam mengelola keuangan.

Sementara itu, Luis Trevino, Senior Policy Manager Financial Inclusion Data di Alliance for Financial Inclusion (AFI), menjelaskan bahwa setelah pandemi terjadi dinamika dalam tren pembiayaan, baik peningkatan maupun penurunan. Kondisi tersebut menuntut lembaga keuangan untuk lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Ia menekankan pentingnya edukasi dan literasi keuangan bagi debitur, termasuk pemahaman mengenai transparansi pinjaman, kewajiban pembayaran kembali, serta tanggung jawab dalam mengelola pembiayaan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak dan sesuai dengan kemampuan mereka.

Aria Widyanto, Head of Secretariat for the Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH), turut menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi setelah pandemi memberikan tekanan terhadap berbagai sektor usaha, terutama usaha informal. Kondisi tersebut menjadi risiko yang perlu dikelola secara tepat oleh lembaga jasa keuangan agar masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki kondisi keuangan dan mengembangkan usahanya.

Dari perspektif teknologi dan pengelolaan risiko, Ganda Raharja Rusli, Director of Risk, Compliance & Legal Allo Bank, menyoroti peran teknologi dalam perkembangan industri keuangan. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat mendukung layanan keuangan yang lebih baik sekaligus membantu mendorong perilaku keuangan yang sehat dan mencegah pola konsumsi yang berlebihan.

Adapun Karin Zulkarnaen, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, menyampaikan bahwa pinjaman dapat memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha. Namun, masyarakat juga perlu memahami berbagai risiko dan ketidakpastian yang mungkin terjadi di masa depan.

Ia menekankan pentingnya membangun pemahaman masyarakat mengenai perlindungan keuangan, termasuk asuransi mikro (microinsurance) dan tabungan. Menurutnya, edukasi yang memadai serta kolaborasi antarlembaga diperlukan agar produk keuangan yang dirancang dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi BPR Bank Nusamba Jatengdiy, pembahasan ini relevan dengan upaya memperkuat peran BPR dalam memberikan akses layanan keuangan kepada masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Pengembangan produk yang inovatif perlu berjalan seiring dengan prinsip kehati-hatian, edukasi keuangan, dan pemahaman terhadap kemampuan nasabah.

Melalui keikutsertaan dalam Financial Health Pathways Forum, BPR Bank Nusamba Jatengdiy menegaskan dukungannya terhadap kolaborasi bersama ILO dan berbagai pihak dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif, inovatif, dan bertanggung jawab. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan keuangan masyarakat, mendukung keberlanjutan UMKM, serta membuka peluang kesejahteraan yang lebih luas bagi pekerja, keluarga, dan pelaku usaha di Indonesia.

(UD)