JAKARTA – Direktur Utama BPR Bank Nusamba Jatengdiy, Bambang Susanto, menghadiri kegiatan Brainstorming Session with Project Partner: Dialogue on Financial Health – Measurement Framework and Strategy yang diselenggarakan pada Rabu, 14 Oktober 2026, di Kantor International Labour Organization (ILO), Menara Thamrin Lantai 22, Jakarta.

Kegiatan ini menjadi forum dialog bersama para mitra proyek untuk membahas kerangka pengukuran kesehatan keuangan (financial health), strategi pengembangan program, serta keberlanjutan kolaborasi dalam memperluas akses layanan keuangan dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Diskusi dibuka oleh Thomas Sugiono selaku National Project Coordinator. Dalam pengantarnya, Thomas menyampaikan berbagai bentuk dukungan yang telah diberikan ILO kepada para mitra, termasuk BPR Bank Nusamba Jatengdiy. Pembahasan diawali dengan evaluasi dukungan ILO, khususnya dalam pemanfaatan aplikasi Loan Origination System (LOS) untuk mendukung proses penyaluran kredit, serta pelaksanaan pelatihan Training of Trainers (ToT) guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Sesi selanjutnya diisi dengan tanggapan dari Yousra Hamed, Senior Financial Inclusion Technical Expert ILO, yang mengajak para mitra berdiskusi mengenai kebutuhan, harapan, dan peluang keberlanjutan program. Forum ini juga menjadi ruang untuk mengevaluasi pelaksanaan proyek yang telah berjalan sekaligus merumuskan bentuk dukungan yang diperlukan agar manfaat program dapat terus dirasakan oleh lembaga keuangan dan pelaku UMKM.

Pada kesempatan tersebut, Bambang Susanto mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan paparan mengenai berbagai kegiatan dan upaya yang telah dilakukan BPR Bank Nusamba Jatengdiy selama menjadi mitra ILO. Paparan tersebut mencakup pengalaman dalam mendukung akses pembiayaan, pendampingan UMKM, serta penguatan kapasitas pelaku usaha melalui berbagai program yang telah dijalankan.

Dalam pembahasan mengenai proyek Promise II Impact Fase III, penguatan akses pembiayaan menjadi salah satu perhatian utama. Upaya tersebut juga diiringi dengan edukasi kepada debitur mengenai pengelolaan keuangan agar mereka tidak hanya memperoleh akses permodalan, tetapi juga mampu mengelola keuangan usaha secara lebih baik dan berkelanjutan.

Sejumlah materi pelatihan yang telah dikembangkan bersama ILO menjadi bagian penting dalam mendukung tujuan tersebut, antara lain Financial Education, kewirausahaan, Start Your Business, Improve Your Business, serta Business Skills. Berbagai materi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan, mengembangkan bisnis, dan memanfaatkan pembiayaan secara produktif.

Ke depan, pembahasan juga mengarah pada pengembangan proyek kopi sebagai salah satu fokus kolaborasi. Inisiatif ini membuka peluang untuk memperluas ruang kerja sama, baik dalam pendampingan usaha maupun peningkatan kapasitas pelaku UMKM yang terlibat dalam rantai usaha kopi.

Salah satu poin penting dalam diskusi adalah bagaimana memastikan program dapat terus berjalan meskipun dukungan proyek mengalami perubahan. Thomas Sugiono menyampaikan harapan agar keberlanjutan program dapat diwujudkan melalui keterlibatan aktif lembaga mitra, termasuk dengan menyiapkan tenaga pelatih dari BPR yang nantinya akan mengikuti pelatihan Training of Trainers (ToT).

Melalui skema tersebut, BPR diharapkan memiliki sumber daya manusia yang mampu meneruskan materi dan pendampingan kepada debitur maupun pelaku UMKM secara mandiri. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang telah dibangun melalui program ILO tidak berhenti pada masa pelaksanaan proyek, tetapi dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masing-masing mitra.

Partisipasi BPR Bank Nusamba Jatengdiy dalam forum ini menjadi wujud komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan ILO dalam mendorong inklusi keuangan, meningkatkan kualitas pendampingan UMKM, serta membangun kesehatan keuangan masyarakat.

Melalui evaluasi, pertukaran pengalaman, dan perencanaan keberlanjutan program, diharapkan sinergi antara ILO dan BPR Bank Nusamba Jatengdiy dapat terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan UMKM, khususnya melalui akses pembiayaan yang diimbangi dengan edukasi dan pendampingan usaha secara berkelanjutan.

(UD)